Mufchlis dan Pesta Menulis

Rabu, 28 Maret 2012

Share this history on :
Eko Prasetyo dan Ria Fariana.

Tak terbayang saya bisa satu kelas dengan Ria Fariana untuk mendampingi siswa dalam program Jatim Menulis. Pasalnya, namanya kadung harum sebagai pengarang buku-buku motivasi remaja. Selain itu, pengalaman organisasinya di bidang menulis juga bikin saya kagum. Ia mantan sekretaris Forum Lingkar Pena (FLP) Jatim pada era Bahtiar H.S.

Soal produktivitas menulis, jangan tanya. Puluhan buku, baik karya solo maupun rame-rame, sudah dihasilkannya. Yang terbaru, ia baru saja meluncurkan buku yang dibikin bersama komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis yang sebenarnya berkedudukan di Bandung.

Mbak Ria –demikian saya menyapanya- juga aktif membimbing Klub Penulis Cilik (KPC) yang dipandegani Sophie Beatrix, ibu rumah tangga yang juga aktif menulis. Wis pokoke tak terbilang betapa bangganya saya bisa satu ruang, satu kelas, dan satu visi dengan Ria.

Oya, kami bertugas membimbing 31 siswa di kelas D, ruang Garuda Hotel Utami Sidoarjo. Mereka datang dari beberapa daerah di Jatim. Di antaranya, Trenggalek, Banyuwangi, Mojokerto, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Pamekasan, Sumenep, Bangkalan, Malang, Blitar, dan Kediri. Dari situ akan diambil 14 karya terbaik untuk dibukukan bersama karya-karya terbaik siswa lainnya. Yang istimewa, buku tersebut bakal diluncurkan pas Hardiknas, 2 Mei 2012 oleh Gubernur Jatim Soekarwo.

Tidak hanya itu, ada tiga buku lainnya dari karya para guru dan mahasiswa. Jadi total ada empat buku dari hasil pelatihan penulisan karya tulis ilmiah populer yang dibingkai dalam program Jatim Menulis itu.
Kami tentu saja tidak banyak ber-cas cis cus dan berteori kepada peserta yang terdiri atas siswa SMP dan SMA sederajat tersebut. Mbak Ria sedikit memberikan motivasi untuk membakar spirit peserta yang masih sangat belia itu. Dia betul-betul bisa ngemong mereka. Maklum saja, Mbak Ria adalah guru Sekolah Al Amal, suatu lembaga yang memberikan pendidikan gratis tis untuk anak-anak miskin dan yatim piatu di kawasan Kenjeran, Surabaya.

Pengalamannya benar-benar menunjang pelatihan maraton mulai pagi (08.00) hingga malam, sekitar pukul 22.00 tersebut. Mbak Ria terus-menerus memberikan semangat. Wajar. Sebab, dengan pelatihan yang begitu panjaaang itu, peserta rawan bosan, penat, bosan lagi, dan penat lagi.

Ketika peserta diminta memetakan masalah untuk mengambil tema, saya tercetus untuk berbuat ”iseng”. Saya ”ngerjai” seorang siswa peserta. Namanya Mufchlis. Ia siswa kelas 1 SMPN 2 Kamal, Bangkalan, Madura. Baru kelas 1 SMP!

Posturnya mungil, berkacamata, dan tampak paling kecil di antara siswa lain, bahkan peserta perempuan. Saat memperkenalkan dirinya di tempat duduknya, suara Mufchlis bergetar. Terbata-bata, grogi.

Tanpa pikir panjang, saya langsung panggil ia maju ke depan. Ini terjadi saat sesi mengindentifikasi dan memilih masalah sebagai tema dalam karya tulis ilmiah populer. Tentu saja wajahnya kian pucat pasi. Ia tampak betul-betul bingung.

Ia mengaku blank. Tak tahu harus mengambil tema apa.

”Muf, kamu punya hobi apa?” tanya saya.

”Sepak bola.”

”Suka nonton sepak bola Indonesia?”

’”Enggak.”

”Kenapa nggak suka?” tanya saya lagi.

”Nggak punya prestasi”

”Kenapa nggak punya prestasi?” saya terus mencecarnya.

”Karena PSSI–nya kacau”

”Kenapa kacau?” saya menggoda lagi.

”Karena pemimpinnya juga kacau”

”Kalau gitu, seharusnya bagaimana sih?”.....

Begitulah saya berondong dan goda Mufchlis dengan pertanyaan-pertanyaan seputar sepak bola Indonesia.

Suasana gerrr pun mewarnai kelas kami. Namun, secara tidak langsung, dengan menjawab pertanyaan saya tadi, Mufchlis mampu mengidentifikasi rincian masalah. Lantas ia mengategorisasikan gagasan-gagasannya. Akhirnya dia punya tema: Persepakbolaan nasional. Dia menyorot konflik PSSI yang berimbas pada prestasi tim nasional sepak bola Indonesia.

Karena tema besarnya adalah kebangsaan, maka Mufchlis terusik untuk membuat tulisan tentang menumbuhkan prestasi sepak nasional yang membanggakan dan dapat mengharumkan nama bangsa.
Siswa lainnya pun terpacu untuk merinci masalah, mengindentifikasikannya, lalu mengategorikan untuk memetakan gagasan. Selanjutnya, secara bersama-sama kami membuat kerangka karangan sebagai panduan untuk menyusun kata-kata yang pas, cocok, dan baik ke dalam bentuk tulisan. Kami terus mendampingi mereka. Mulai membuat judul yang baik, menyusun kalimat yang tepat dan tidak mbulet, serta menggali informasi/data untuk menunjang karya tulis mereka.

Waktu terus berlalu, sampai beranjak petang. Tulisan anak-anak rata-rata sudah rampung. Sempat saya bahas bersama Mbak Ria bersama-sama. Mungkin saat ini mereka masih mendiskusikannya kembali. Seorang pengarang dan tutor hebat bertemu dengan anak-anak yang antusias.

Petangnya saya sudah beranjak kembali ke kantor. Meninggalkan gelanggang Jatim Menulis. Meninggalkan Mufchlis yang mungkin masih asyik menulis. Tentu mereka tak harus jadi penulis kelak. Tapi, paling tidak, seperti dibilang Pak Budi Darma sehari sebelumnya saat pembekalan program Jatim Menulis, menulis itu salah satunya bisa mengatasi permasalahan hidup. Semoga mereka mampu menikmati pesta menulis ini!

Graha Pena, 25 Maret 2012
EKO PRASETYO
Thank you for visited me, Have a question ? Contact on : youremail@gmail.com.
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...

0 komentar:

Posting Komentar