Pengalaman Melatih Menulis di Indonesia Menulis

Rabu, 28 Maret 2012

Share this history on :
Salam,

Pengalaman melatih kali ini agak berbeda dari biasanya. Bayangkan, saya disandingkan seorang profesor!

Saya terkesan ketelatenan Prof Sarmini dan pengetahuannya yang mendalam tentang logika pikiran, runtutnya tulisan, alur, mekanisme, dan lain-lain yang memang berbau ilmiah. Benar-benar pasangan pas denganku yang berbau media massa (populer). Kami saling melengkapi. Sambil sayup-sayup agak terganggu gelegar suara Pak Hariyanto yang tetap powerful di usia pensiun-nya. Maklum, kami satu ruangan, jadi, suara saling meng-interference. Saya dan Prof Sarmini (yang masih muda), mengagumi semangat Pak Hariyanto. Hebat benar beliaunya. Lebih sering bicara secara klasikal dan berapi-api.
Sementara di kelas saya dan Bu Sarmini, setelah saya beri tips umum sekitar 15 menit lalu tanya jawab, kelas langsung sunyi senyap karena mereka harus menulis. Sesuai panduan Pak Yatno: temukan masalah, lalu submasalah, subgagasan, sumber-sumber, judul, elaborasi, konklusi.

Hingga tengah hari (Ishoma), peserta sampai pada bagian submasalah, yang akan menjadi paragraf-paragraf dalam karya; ada juga yang sampai ke subgagasan, yang akan menjadi kalimat-kalimat dalam artikel.

"Semakin banyak subgagasan Anda, semakin panjang artikel Anda nantinya. Kalau subgagasannya sedikit, miskin pula tulisan Anda nanti," kataku.

Usai Ishoma, hingga pukul 14.00, peserta mulai aktif menuliskan subgagasan-subgagasan. Tentu, ada yang lancar, ada pula yang masih kosong, atau hanya menemukan 1-2 subgagasan. Pukul 14.00 kami dorong peserta untuk mulai menuliskan artikelnya berdasarkan subgagasan yang sudah ditemukan itu, sambil mereka-reka judulnya. Peserta kami persilakan menuliskan judul artikel di papan tulis, lalu kami komentari. Sementara itu peserta kami bagi dua, masing-masing kelompok dapat berkonsultasi personal kepada Bu Sarmini dan saya.

Maka, pukul 15.00-17.30 bergantianlah mahasiswa membawa lembar-lembar draft karya atau laptopnya dan berkonsultasi dengan kami di dua meja yang berbeda.

Kelas kami mungkin lebih sepi dibanding kelas Pak Hariyanto dan Mas Hartoko, karena kami mengutamakan bimbingan intens secara personal. Pada akhir hari pertama, PR bagi peserta adalah menuliskan yang telah dikonsultasikan itu dan besok pagi harus sudah jadi karya.

Hari kedua, Subhanallah ..... tidak ada yang belum jadi. Semua sudah jadi, bahkan siap mau print out (agaknya mereka lembur semalaman). Karena printer dan laptop tidak terkoneksi sistemnya, printing dibatalkan, maka naskah diperiksa lewat laptop. Menurut saya, karya mereka memang belum sempurna, tetapi lebih baik dari perkiraan (estimasi) awal saya. Saya terkesan ada yang sudah sangat cerdas dengan content, ada yang sudah bagus bahasanya, ada juga yang konten dan bahasanya masih payah tapi saya akan bantu dia untuk masuk karena alasan personal. Ini alasannya: mahasiswa ini dari timur (Timor/NTT) yang dengan bahasa amburadul dan bahan minim bersikeras menulis tentang kurangnya kebanggaan anak muda terhadap Indonesia. Menurutnya, Indonesia sangat patut dibanggakan. Intinya: anak ini bangga banget jadi warga Indonesia. Saya terharu, dan saya berniat akan membantunya ..... (buat saya luar biasa ada anak Timor bangga dengan Indonesia, mengingat sejarah Timtim yang ingin lepas dari Indonesia dan terpuruknya nasib mereka yang pro-Indonesia - terkatung-katung di NTT).

Demikianlah, pukul 11.00 kelas kami selesai. Saat bubaran, saya tanya kesan-kesan mereka. Secara serempak mereka bilang: "Puaaasss ...." "Menyenangkan Bu ....." "Pengalaman yang berkesan". Lalu mereka heboh minta foto bareng dan menyalami (bahkan cium tangan). Saat penutupan, Prof Warsono memberikan nasehat yang luar biasa. Yang paling saya ingat ini: "Kalian akan mengubah dunia. Tidak dengan demonstrasi, tetapi melalui tulisan." Wuih, applausenya seru banget. Pendeknya, kalimat-kalimat Prof Warsono amat bernas, menyemangati, disimak dengan seksama oleh anak-anak, dan disambut dengan gegap gempita.

Ada peserta yang mengusulkan membuat jaringan, langsung disambut meriah.
Saya tanya juga: "Ada yang menemukan calon istri atau suami?"
Ketawa semua. Satu dua bilang "Sudah Bu ..."
"Wah, baru dua hari saja sudah dapat, bagaimana kalau seminggu ya?"
"Ya Bu, kapan diadakan ketemuan lagi Bu ....."

Melihat wajah ceria para mahasiswa dari ujung barat ke ujung timur Jawa Timur, saya teringat jamanku mahasiswa. Ketemu sesama mahasiswa dari perguruan tinggi lain seperti ini amat menyenangkan. Mereka tak henti-hentinya berfoto, tukar nomor HP, FB, seperti enggan berpisah.

Alhamdulillah .....

Sirikit Syah
<sirikitsyah@yahoo.com>
Thank you for visited me, Have a question ? Contact on : youremail@gmail.com.
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...

0 komentar:

Posting Komentar