Arsip Tulisan

Guru Wajib Menulis Artikel Ilmiah

Rabu, 15 Februari 2012


Karya tulis ilmiah yang dipublikasikan di media massa menjadi keharusan bagi para guru dalam rangka meningkatkan profesionalismenya. Mulai tahun depan, sebagai syarat untuk kenaikan pangkat guru – semua golongan – salah satu syaratnya adalah menulis artikel ilmiah yang dimuat di media massa.

‘’Para guru harus mulai menyiapkan diri menghadapi peraturan baru soal kenaikan pangkat, salah satunya dengan menulis artikel populer di media massa,’’ kata Drs Hari Subagio, Kepala SMPN 13 Malang, dalam acara pelatihan penulisan artikel bagi guru di sekolah tersebut, Sabtu (21/1) lalu.

Kegiatan tersebut diikuti semua guru di sekolah tersebut dengan mengundang pemateri Husnun N Djuraid, redaktur senior Malang Post. Peserta diberi motivasi dan dibimbing untuk menulis artikel sampai pada pemuatan artikel mereka terutama di Malang Post. Menurut Hari, peluang yang diberikan oleh Malang Post ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh para guru, karena biasanya para penulis artikel mengalami kesulitan untuk memublikasikan tulisannya di media massa. ‘’Peluang yang diberikan oleh Malang Post ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,’’ ucapnya.

Dia menjelaskan, selama ini para guru masih banyak yang belum tahu tentang penulisan artikel, baik penulisannya maupun tata cara pengirimannya. Memang sudah ada beberapa guru yang sudah menulis artikel dan dikirimkan ke media massa, tapi karena tidak dimuat, mereka patah semangat dan tidak menulis lagi. Bukan hanya ditolak, penjelasan soal diterima atau tidaknya sebuah artikel, tidak mereka terima.
Padaha, artikel merupakan salah satu syarat untuk kenaikan pangkat bagi guru. Kalau aturan sebelumnya hanya para guru golongan IV tapi mulai tahun depan guru pada semua golongan harus menyertakan penulisan karya tulis ilmiah di media massa sebagai syaratnya.

Untuk itu para guru harus menyiapkan diri sejak dini menghadapi aturan tersebut. Ada tiga aturan yang dipakai landasan untuk kenaikan pangkat guru yakni Peraturan MenPAN-RB nomor 16 tahun 2009, peraturan bersama Mendiknas dan Kepala Badan Kepegawaian Nasional nomor 3 tahun 2010 dan Peraturan Mendiknas nomor 35 tahun 2010, tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya.

 Ketiga aturan tersebut mewajibkan guru untuk melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang terdiri dari pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif. ‘’Penulisan artikel di media massa termasuk bagian dari publikasi ilmiah yang menjadi kewajiban PKB bagi para guru. Materi artikelnya harus spesifik, masalah yang terkait dengan kegiatan mengajar di kelasnya masing-masing,’’ jelasnya.
Selama hampir empat jam Husnun memberikan materi menulis artikel kepada para guru di SMPN 13 tersebut. Dia mengatakan, pada intinya para guru sudah punya dasar untuk menulis, hanya saja mereka masih belum tahu kapan memulainya. ‘’Saya hanya memotivasi mereka untuk menulis artikel, karena mereka sudah punya gambaran tentang apa yang akan mereka tulis dan nanti tulisan mereka dimuat di Malang Post,’’ jelasnya.(nun)
 

Mengapa Guru Harus Menulis?

Berbagai alasan dan alergi muncul ketika sebagian dari kita dihadapkan pada keharusan untuk menulis suatu kegiatan tertentu,membuat laporan, menulis karya ilmiah baik berupa PTK dan lainnya. Sementara merujuk pada pasal 4 UU 20/2003 tentang SISDIKNAS yang menuangkan prinsip-prinsip dalam penyelenggaraan pendidikan.

Salah satu hal yang dibahas adalah pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

Sudah seharusnya sebagai guru harus mencintai kegiatan membaca dan menulis demi mendukung visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. 

Sejalan dengan visi Pendidikan Nasional tersebut, Depdiknasberhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF (Insan Kamil/Insan Paripurna). 

Seperti dikutip dari Jambi Ekspress yang ditulis oleh Elizabeth Tjahjadarmawan, S.Si ada beberapaa alasan yang mendasari seorang guru harus menulis.

Mengapa Guru Harus Menulis?

Jika banyak orang yang memilih uang dan kekuasaan untuk mempengaruhi orang lain, tidak demikian seyogyanya bagi seorang guru. 

Melalui tulisan, kita bisa mempengaruhi orang. Sebagai guru yangnota bene digugu lan ditiru diharapkan kaya dengan berbagai ide bagaimana dapat mempengaruhi peserta didik, rekan sejawat, kaum praktisi pendidikan, bahkan masyarakat kendati guru bukanlahdecision maker di negeri ini. 

Banyak fakta dan pengalaman menyatakan bahwa melalui tulisan, banyak kehidupan orang-orang di dunia ini dapat diubahkan. Begitu besar pengaruh tulisan bagi pembaca. Sebut saja Kiyosaki dengan bukunya yang terkenal Rich Dad Poor Dad yang digunakannya untuk‘mempengaruhi orang’ untuk melihat pentingnya memiliki semangat wirausaha.

R.A. Kartini juga menggunakan tulisan untuk mempengaruhi orang lain agar mau memberi kesempatan yang sama pada wanita untuk mengecap pendidikan, suatu dampak abadi yang kita rasakan sepanjang masa.

Berbagai organisasi pemuda sejak zaman pergerakan nasional awalabad ke-20, sebut saja Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging) dengan ketua Drs.Mohammad Hatta menerbitkan majalah Indonesia Merdeka. Melalui majalah ini perjuangan dan tujuan PI diketahui rakyat Indonesia. Parindra, Partai Indonesia Rayadengan tokoh-tokoh utamanya yang menulis di majalah Panyebar Semangat yang menyebarluaskan cita-cita mencapai Indonesia merdeka. Max Havelaar, buku yang ditulis oleh Douwes Dekkersehingga sistem tanam paksa tahun 1800 an dihapuskan di bumi Indonesia oleh penjajah Belanda. 

Tulisan juga bisa digunakan sebagai sarana berbagi pengalaman. Seperti yang dituliskan oleh Susan K Perry, orang tua Lo Dietrich sangat terpukul ketika sang anak didiagnosa mengidap cystik fibrosis sejak bayi.

Ketika Lo mencapai usia 15 tahun, orang tua Lo telah banyak membaca buku dan literatur mengenai penyakit langka tersebut sehingga mereka memutuskan untuk menuliskan buku tentang penyakit tersebut.

Dalam buku ini orang tua Lo membagikan pengetahuan tentang penyakit Cystic fibrosis, dan pengalaman mereka merawat Lo yang terserang penyakit ini sejak bayi. Mereka mengharapkan bahwa orang tua lain dengan pengalaman dan penderitaan yang sama dapat menimba manfaat dari buku tersebut. Inilah yang memberi kepuasan bagi orang tua Lo sebagai penulis buku tersebut.

Didera penderitaan luar biasa dengan siksaan dan isolasi dari dunia luar selama bertahun-tahun, bisa membuat seseorang hilang ingatan. Tapi ini tidak terjadi pada Wei Jingsheng yang dipenjara dan diisolasi selama 18 tahun. Ia tetap bertahan melalui tulisan. Dengan tulisan yang diselundupkan ke luar penjara, ia masih bisa berkomunikasi dengan keluarga tercinta. Dengan tulisan tersebut ia juga bisa menyampaikan kepada dunia tentang penderitaan yang dialaminya.

Tulisan ini juga akhirnya mampu membebaskannya dari penderitaan. Tulisan tersebut telah membuat dunia memberi tekanan pada pemerintah di negaranya untuk membebaskan Wei Jingsheng.

Untuk hidup abadi, seseorang tidak perlu obat-obatan ataupun kekuatan magis, yang diperlukan adalah kekuatan tulisan yang dapat mengabadikan karya dan pemikiran dari penulis. HC Andersen, dengan cerita-cerita dongeng klasik yang ditulisnya, tetap hidup sampai sekarang. Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, dan Muhammad Hatta sampai sekarang pun tetap abadi melalui hasil tulisan mereka berupa buku roman klasik, kumpulan puisi, dan buku-buku pemikiran ekonomi.

Yang jelas, selain manfaat kepuasan dan manfaat non-materiallainnya, tulisan yang dimuat di media atau yang dipublikasikan dalam bentuk buku dapat memberi manfaat finansial bagi si penulis. Steven Covey dengan seri buku pengembangan dirinya seperti Seven Habits of Highly Effective People, Paul Ormerod dengan bukunya yang kontroversial The Death of Economics, Joseph Stiglitz dengan bukunya yang penuh kejutan Globalization and Its Discontents, telah mengalirkan banyak keuntungan bukan saja bagi penulisnya, tapi juga bagi penerbit buku-buku tersebut.

Tulisan memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Tulisan dapat menggulingkan sebuah rezim, tulisan dapat mencegah perang, tulisan dapat membangkitkan semangat hidup, tulisan dapat menyelamatkan nyawa, tulisan dapat mengasah otak, tulisan juga dapat mendatangkan rejeki. Dengan demikian begitu banyak manfaat yang dapat dipetik dari sebuah tulisan, mulai dari proses menulis, kebiasaan menulis, dan dampak menulis bagi diri sendiri dan orang lain. 

Guru Harus Miliki Kemampuan Menulis untuk Naik Pangkat

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam, Drs Muslim Lubis,SH mengatakan salah satu syarat naik pangkat guru harus bisa memiliki keterampilan menulis. "Workshop ini merupakan upaya untuk memberikan keterampilan guru menulis dan membuat karya ilmiah," kata Muslim Lubis pada workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi puluhan guru SMP yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMP-PAI ) di Medan, Sabtu (11/2).
Muslim menyebutkan, program ini kerjasama antara MGMP PAI, dengan Kementerian Agama Wilayah Provinsi Sumatera Utara.Kegiatan diikuti 40 peserta dari 27 kabupaten kota. "Kegiatan workshop ini memberikan banyak manfaat kepada peserta, diantaranya memudahkan mereka untuk menulis karya ilmiah,"katanya didampingi Sekretaris Sunarto MPd.

Acara yang berlangsung tiga hari (Jumat-Minggu, 10-12/2) dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Provinsi Sumatera Utara, diwakili Kabid Mapenda Drs H Yulizar MPd sedangkan pembicara Prof Dr H Khairil Ansari MPd yang menyampaikan penelitian tindakan kelas. Dr M Rajab Lubis MS menyampaikan materi Pendidikan karakter bangsa dan Drs H Yulizar MPd menyampaikan materi berjudul Penjaminan mutu pendidikan agama Islam.

Prof Dr H Khairil Ansari MPd dalam paparannya menyebutkan, saat ini sangat sedikit guru yang memberikan motivasi pada siswa untuk menulis sebuah karya sastra.Hal itu memberikan imbas pada menurunnya tingkat kegemaran siswa membuat tulisan sastra seperti pantun dan puisi.

Padahal, menulis,salah satu cara membuat peserta didik paham tentang pelajaran Bahasa Indonesia utamanya tentang sastra. "Kalau mereka menulis, ada hasil karya.Hal itu menandakan seorang guru berhasil membuat mereka paham tentang pelajaran yang mereka ikuti dari gurunya,"kata Khairil. (maf)

Guru Harus Pandai Menulis

Merenspon peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) Nomor 16/2009 Tanggal 10 November 2009, tentang kenaikan pangkat bagi para guru, Dinas Pendidikan Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, langsung mengintenskan sosialisasi aturan baru tersebut, agar segera menyebar dan diketahui secara luas khususnya di kalangan guru PNS dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

"Terhitung sejak tahun 2011 ini guru PNS yang mengajukan kenaikan pangkat harus bisa menulis karya Ilmiah inovatif yang bernilai kredit poin, selain persayaratan pengembangan diri masing-masing guru," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidrap H Syahruddin HT kepada Kompas.com Senin (27/6/2011).

Keharusan tersebut harus dipenuhi seluruh guru, sebagai salah satu saat mengajukan kenaikan pangkat. Intensitas sosialisasli terus di tingkatkan pihaknya agar para guru mulai dari sekarang mengasah kemampuan dalam menghasilkan karya tulis.
Syahruddin mencontohkan, untuk kenaikan pangkat dari IIIA ke IIIB guru wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri seperti pelatihan dan kegiatan kolektif guru untuk mendapatkan tiga nilai angka kredit. "Publikasi karya ilmiah atau karya inovatif, wajib dilakukan. Kalau tidak, maka pengajuan kenaikan pangkatnya akan di tunda," katanya.

Guru Wajib Menulis Karya Ilmiah

Guru dituntut untuk meningkatkan kapasitas diri. Salah satunya mesti memiliki kemampuan untuk membuat karya tulis ilmiah. Bahkan mereka diwajibkan untuk membuat karya tulis ilmiah.
“Karya tulis ilmiah merupakan hal yang penting bagi para guru. Menulis sebuah hal yang bisa meningkatkan wawasan pengetahuan, mengasah kecerdasan, serta banyak pengetahuan lainnya yang bisa diperoleh dari menulis,” kata M Idris, Koordinator Pengawas (Korwas) Dinas Pendidikan (Disdik) Melawi, yang mewakili Kepala Disdik Melawi saat membuka kegiatan seminar sehari jurnalistik dan karya tulis ilmiah.
Kegiatan ini diselenggarakan kerja sama Tri operator seluler Kalimantan Barat Cabang 3 cluster Kapuas bekerja sama dengan Disdik Melawi, Kamis (24/11) di Gedung Eks Paripurna.
Memang tuntutan guru untuk tahu menulis karya ilmiah tidak berlebihan. Lantaran mereka juga yang mengajarkan pada murid untuk menulis. Bagaimana mungkin jika guru tidak tahu menulis namun mengajarkan cara menulis.
“Setiap guru itu seharusnya wajib dan harus bisa menulis karya ilmiah. Kalau guru saja tidak bisa menulis karya ilmiah, bagaimana dengan murid yang diajarinya. Nah jadi para guru harus bisa menulis karya ilmiah,” tegas Idris.
Sementara Ketua Panitia Pelaksana Syawaludin mengatakan pada dasarnya Tri operator seluler Kalimantan Barat Cabang 3 cluster Kapuas merasa terpanggil untuk meningkatkan kemampuan menulis bagi guru maupun calon Umar Bakri. Maka dari itu dengan persiapan waktu sembilan hari, mereka memacu diri untuk menggelar pelatihan menulis ini.
“Kami membentuk kepanitiaan untuk melaksanakan kegiatan seminar menggandeng Disdik Melawi. Kita tahu bahwa pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2005 tentang guru dan dosen agar meningkat kualitas dan kapasitas diri. Hingga itu, baik guru maupun pihak lainnya berupaya untuk mendorong supaya guru bisa mewujudkan amanah undang-undang tersebut,” paparnya.
Lantas ulas Syawaludin, menulis untuk penyetaraan pendidikan, banyak pihak mengadakan berbagai pelatihan dan seminar. Dengan adanya seminar tersebut dapat bermanfaat meningkatkan kompetensi guru di lingkungan Pemkab Melawi. Untuk mencapai tujuan tersebut tidak mudah melainkan, membutuhkan proses belajar yang berkesinambungan.
“Kami ingin dengan seminar ini bisa membangun semangat guru dan para mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan menulis dan memberi bekal serta untuk membuat karya tulis ilmiah,” pungkasnya. (aji)